Bahasa Isyarat(Img)

Wanita Karir Versus Ibu Rumah Tangga

Atas pertimbangan membantu perekonomian rumah tangga, banyak perempuan memutuskan untuk bekerja di luar rumah. Penghasilan tetap sang suami dirasakan tidak mencukupi kebutuhan keluarga yang makin lama makin besar. Tak hanya sekedar bekerja, banyak wanita yang bahkan memiliki karir dan tingkat penghasilan lebih baik daripada sang suami.

Menjadi wanita karir merupakan pilihan hidup yang banyak diambil oleh perempuan masa kini, baik yang belum menikah, maupun yang telah berumah tangga. Benarkah wanita karir lebih hebat dari ibu rumah tangga? Tentu ada sisi positif dan negatif dari kedua pilihan tersebut.

Berikut sisi positif dan negatif dari keduanya.

  1. Memilih menjadi wanita karir akan membawa beberapa konsekuensi buat perempuan, terutama masalah keluarga. Banyak waktu yang harus direlakan demi alasan profesionalisme. Untuk itu, waktu bagi keluarga terpaksa harus dikurangi. Negatifkah ini? Apabila mereka bisa mengatur waktu sedemikian rupa hingga urusan rumah tangga masih bisa terurus dengan baik, maka tidak ada persoalan serius yang harus dihadapi.
  2. Wanita yang berkecimpung di dunia profesional harus merelakan kehilangan masa-masa membesarkan anak. Banyak perempuan yang tiba-tiba merasa “kehilangan” anak mereka. “Tiba-tiba”, anak-anak sudah menginjak bangku SMP dan sudah malu untuk mendapatkan ciuman dari sang mama. Tentu, bukan hal ini yang Anda inginkan.
  3. Sisi positif dari bekerja adalah pergaulan yang luas dan penghasilan yang lebih banyak (hingga bisa memberikan fasilitas cukup untuk anak).
  4. Buat ibu rumah tangga, tidak berarti mereka tidak memiliki sisi positif. Ibu rumah tangga memiliki waktu yang sangat luas dan mereka dedikasikan sepenuhnya untuk anak-anak dan suami tercinta. Ibu akan dapat mengawasi buah hatinya dengan sepenuh waktu. Pendidikan anak di rumah akan jauh lebih terjamin karena diawasi langsung oleh sang Bunda.
  5. Bukan berarti menjadi ibu rumah tangga tidak memiliki unsur negatif. Ketidakmampuan menahan diri untuk menjadikan TV sebagai sarana hiburan satu-satunya terkadang justru membuat banyak ibu “lupa” tugas utama sebagai ibu yang mendidik dan mengasuh anak di rumah. Belum lagi “sindrom ibu-ibu komplek” yang melanda banyak wanita Indonesia. Merekamenggunakan sarana tukang sayur sebagai media “gaul”, yang sayangnya lebih berisi gosip, bukan hal yang membangun.

Wanita Indonesia memang beragam. Sebagian memilih karir sebagai sarana mengejawantahkan diri. Sebagian lagi memilih berkonsentrasi pada keluarga dan sebagian lagi cukup sukses menjalankan keduanya. Sebagai wanita Indonesia, pilihan mana yang akan Anda ambil?

3 Responses to “Wanita Karir Versus Ibu Rumah Tangga”

  • Kamu Cantik says:

    Nice posts. Menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga merupakan sebuah pilihan dan tentu saja keduanya membutuhkan rasa tanggung jawab yang tinggi. Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita memahami peran dengan baik serta siap dengan segala konsekuensinya.

  • aceiyo says:

    Sudah pernah berada di area wanita karir yang akhirnya memutuskan resign untuk fokus mengurus keluarga. Bila dibandingkan, ternyata jauh lebih berat menjadi seorang IRT, karena harus terjun langsung ke lapangan, terlebih karena ngga ada asisten lagi :D Namun, sayangnya saya juga ngga bisa diem untuk ngga menghasilkan meski itu dari rumah.

  • sari says:

    Saya telah berhenti bekerja sejak hamil, lalu saya bekerja lagi saat anak usia 2 th,tetapi tdk ikut org, kerja dirmh, kirim brg sama anak, pagi masak, mala tunggu barang dr pabrik,itung stock klo malam, lumayan sibuk tp menyenangkan, tp saya akui saya tidak bisa seimbang antara jaga anak penuh dan bekerja, hingga saya harus berhenti bekerja pd saat pindah ke ibukota, disini saya tdk bekerja alias mjd ibu RT sepenuhnya, sedikit bosan, pengen usaha apa yang saya sukai, tetapi tetap sy tidak sanggup krn anak saya sdh menginjak SD yang mana pendidikan terus maju, ikut les bukan jaminan anak pintar, tetapi menurut saya ini butuh peran ibu Ɣaηб slalu senantiasa mengajarkan,saya terkadang ingin bekerja kantor, tetapi saya tdk sanggup tinggalkan anak ke pembantu,keluargapun jauuh di luar kota..shg saya skrg memilih mjd ibu RT yang baik, saya yakin rejeki nggaa akan kemana2, slama kita berbuat baik. Kata2 itu yng nenangin saya kalo pikiran ingin bekerja dtg, smoga suatu saat ada pekerjaan yang saya senangi dtg, tanpa harus ninggalin anak saya bisa cari rizki..amiiinnn!!

Leave a Reply

Advertisement
bayi 101(Img)
Kategori Artikel
Arsip Artikel